x

mcnmr / Blog

Estetika (Bagian1 dari 3 Bagian)

Ide terpenting tentang estetika filsafat dari jaman Yunani kuno sampai abad ke-18 adalah pertanyaan “apakah keindahan itu?” Asal kata keindahan adalah Bellum (latin), akar katanya adalah Bonum (kebaikan) kemudian menjadi Bonellum dan akhirnya dipendekkan menjadi Bellum. Keindahan dibedakan menjadi 3 pengertian: 1. Keindahan dalam arti luas, 2. Keindahan dalam arti estetis murni, 3. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan. Dalam arti luas semula merupakan pengertian Yunani (Plato, Aristoteles,Plotinus): keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, keindahan intelektual. Dalam estetis murni: pengalaman estetis seseorang dengan segala sesuatu yang dicerapnya. Dalam arti terbatas: benda-benda yang dicerap oleh penglihatan, yaitu keindahan bentuk dan warna secara kasat mata. Kualitas keindahan yang paling sering disebut adalah kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmetry), keseimbangan (balance), dan perlawanan (contrast). Herbert Read, The Meaning of Art: keindahan adalah kesatuan dari hubungan bentuk yang terdapat diantara pencerapan indrawi kita. Kaum Sofis, Athena (5 SM): keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan terhadap penglihatan atau pendengaran. Thomas Aquinas (1225-1274): id quod visum placet (sesuatu yang menyenangkan bila dilihat). Estetika berasal dari bahasa Yunani “aisthetika” yang berarti hal-hal yang dapat dicerap oleh pancaindera (sense of perception). Filsuf Jerman, Alexander Baumgarten (1714-1762) yang pertama kali mengenalkan istilah “aisthetika” sebagai penerus dari Cottfried Leibniz (1646-1716). Estetika merupakan cabang filsafat yang mempunyai 4 pokok persoalan, Yaitu: 1. Nilai estetika (esthetic value), 2. Pengalaman estetis (esthetic experience), 3. Prilaku orang yang mencipta (seniman), 4. Seni. Estetika dipandang sebagai ilmu kesenian (science of art) dengan penekanan watak empiris dari disiplin filsafat. Estetika sebagai disiplin ilmu terbagi atas Theories of Art, Art Histories, Aesthetic of Morfologi, Sociology of Art, Anthropology of Art, Psychology of Art, Logic, Semantic, Semiology of Art. (bersambung)

quo vadis

Apa mau dikata? Jaman telah jauh berkembang dan berubah demikian pula seni yang merupakan anak jamannya. Dan menjadi pertanyaan saya sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi di jurusan seni murni, lalu apakah seni masih dapat diharapkan untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik? Seperti ketika abad kegelapan menjadi abad pencerahan? Perasaan pesimis selalu membayangi karena akhirnya seni hanya dinikmati sebagai pajangan karena maksud dari seniman di dalam karyanya terabaikan seiring waktu yang terus bergerak. Maksud saya adalah sebuah karya seni yang sudah pasti memiliki tendensi tidak lagi menggerakkan hati malahan ditelanjangi oleh yang namanya pastische, parodi, kitsch, camp, dan seabreg label seni yang digolongkan sebagai kontemporer, tetapi apa mau dikata? Apakah memang seni yang telah berkembang adalah seperti itu? Atau memang seni tidaklah tendensius, a matter of self-expression? Apakah memang ada yang bernama seni atau “seni”? atau malah mejadi apakah seni itu? Manusianya juga berkembang sesuai jaman yang semakin maju secara intelektual akibat teknologi dan informasi. Anehnya ada manusia yang berkelamin dan bertubuh laki-laki namun kelihatan seperti perempuan begitupun sebaliknya, malah ada juga yang bukan laki-laki pun bukan perempuan atau terkenal dengan sifat androginynya, lalu karena seni lahir lewat bantuan manusia, maka begitu pulalah keadaannya, seni menjadi campur baur dan cair atau lebih dikenal dengan istilah eklektis. Anehnya lagi, manusianya merasa biasa saja, melakukan aktifitasnya sehari-hari tanpa tersentuh dan tergerak hatinya, seolah seni adalah pembukaan pameran dan lantas menelannya mentah-mentah kemudian hilang dibuang di kamar mandi atau wc? Saya berharap jikalau seni akan mengalami kehancuran dan sedang menggali kuburannya sendiri, saya adalah batu nisannya. Artist are the antennae of the race, ujar Ezra Pound, So what. Bandung, Nopember 2011