x

Ayu Laksmi / About This Artist

Artist Details and Stats:

Hometown: Denpasar, ID

Label: Svara Semesta

Management: Dadisiki Pro Bali

Website: www.ayulaksmi.com

Genre: World

#-
World charts for Denpasar, ID
  • 5,216
    Total Fans
  • 8,764
    Profile Views
  • 2
    Recent Plays
  • 2,316
    Widget Hits

Biography:

Ayu Laksmi is a Balinese diva of Indonesian world music, she is not only a singer,as well as a gifted song writer, dancer, actress and theatre performer. Starting as a rock singer, Ayu has travelled through many musical genres before she finally arrived where she is now.
Her music employs many musical idioms from across Indonesian culture and religions. Her new solo album entitle SVARA SEMESTA, features undeniably religious and spiritual undertones, presented in contemporary presentation or better known as World Music. Her songs written in no less than 5 different languages, including Sanskrit, Kawi, Balinese, Indonesian and English.
Ayu’s contemporary version of an ancient Kawi poem soon became an integral part of her spectacular show, with a haunting performance that showcases Ayu’s vocal abilities and stage presence. On stage Ayu’s husky alto is sometimes deep and heavy, at others sharp and shrieking, then again smooth and sensual, all fusing into a contemporary musical style that has become her trademark.

However, the strength of Ayu Laksmi is in the live performance where she can make audiences seriously engage with her music and dance to the joy. Along with the launch of her new solo album , Ayu Laksmi formed a new musical group also named Svara Semesta.
Her Live performances involved some talented and young musicians from different corners of the country but mostly from Bali.

Press:

“With her trademark meditative and contemporary music style, singer Ayu Laksmi has delivered another work of art with the launch of her second album, Svara Semesta 2. “I never thought I could launch another album after Svara Semesta because I gave my all to that album. I thought I’d put every single part of my music into it,” Ayu said during the new album’s launch at the Galeri Indonesia Kaya in Central Jakarta recently. “However, due to the support of my colleagues and families who were convinced I still had more to give, I will was able to produce the second Svara Semesta album and for this, I thank each and every one of them.” The new album is the follow- up to her 2010 album Svara Semesta, considered by musicians and critics alike to be one of the most influential Indonesian music albums to date, due to its originality and high artistic quality.”
Jakarta Post

“Bali is my Life”
travelerbali.com

“Laksmi’s reincarnated after 18 years of hiatus from the recording industry. With her new album Svara Semesta, once again she shows her true self as a creative artist that is deeply connected to the magical and mystical nature along with the relationship among human, between us and nature and of also to God. Laksmi amazingly served the album in 5 languages such as the ancient Sanskrit, Kawi, Balinese, Indonesian and English. Here’s a very unique album that will bring you into a very different world of art. The ethnical Balinese nuance is simply unbelievable, unlike what you’ve ever heard before. This is magnificent showcase of art form at its best. It’s amazing how a lady can creatively and innovatively transcends the peaceful dreams of everday life’s realms into music, as well as reflecting life by devotedly giving herself to God and moving the spiritual values through music. If you wonder how it is, Ayu Laksmi has done it for us to experience.”
Jazzuality

““Kain tenun ini asli Tenganan, loh. Koleksi istimewa. Mau keluar dari ruang penyimpanan harus sembahyang dulu,” tutur Ayu Laksmi, menampakkan religiositas Ayu yang kental. Pencapaian rohaninya ia capai lewat proses panjang. Kelahiran Singaraja, Bali, pada 25 November 1967 ini bernama lengkap I Gusti Ayu Laksmiani. Sebagai bungsu dari empat bersaudara yang dibesarkan seorang ibu, Drg I Gusti Ayu Sri Haryati—karena ayahnya I Gusti Putu Wiryasutha sudah lama meninggal dunia—Ayu tumbuh penuh penjagaan.”
Warisan Indonesia

“Domestic Groove-AYU LAKSMI Singer, Songwriter What music are you into at the moment? Original music/albums that have just been released by my good friends like Riwin, Oded, ChaCahyadi, Yoichi Ikeda dan Gde Kurniawan. From pop to rock to jazz! What was the first record you bought? Any interesting stories behind it? A song name "Gunung Fujiyama" by Titik Sandhora, when I was 4 years old hahaha… That was my favorite song, I remember one time I cried like hell when I heard the song being sung by the neighbour's child. I said to my grandma, "That is my song, nobody is allowed to sing it, will you ask her to stop singing it now..." Then when I hit my teenage era my attention became a bit different: I started listening to other kinds of music which was more classic/art rock.”
Rudolph Dethu - Facebook Interview

“Kekawin Arjunawiwaha Ayu Laksmi - Mengolah spiritualitas Bali dalam suguhan musik yang bisa diterima banyak pendengar. Dari Kitab Kekawin Arjunawiwaha, Ayu Laksmi mengolah rasa dan mengeksplorasi musik menjadi persembahan kepada Sang Kuasa. Bahasa Kawi dan Sanskerta bukan penghalan bagi banyak pendengar untuk menikmati sejian musik Bali dibalut oleh instrumen modern. Univesalitas musik dan sebuah karya tampak pada perpaduan itu.”
Iman Firdaus - Majalah Forum

“Kiprah pertama dibuat Ayu Laksmi dari Bali, disusul Ruth Sahanaya atau Mbak Uthe yang berdarah Ambon (Maluku), dan yang ketiga seorang pendatang baru dari Kota Bogor bernama Indah Dewi Pertiwi. Apa yang mereka lakukan cukup menarik perhatian. Ayu Laksmi, misalnya, bisa disebut membuat lompatan besar dalam hidupnya sebagai seniman. Wanita yang satu ini mengaku menghabiskan waktu tidak kurang dari 18 tahun untuk mengubah citra dirinya dari seorang lady rocker di era Nicky Astria, Anggun C. Sasmi, Poppy Mercury, Mel Shandy, Ita Purnamasari berjaya pada penghujung 1980 hingga 1990an, menjadi penembang world music (modern sarat unsur tradisional).”
John Nikita Sahusilawane - Antara Maluku

“Babak akhir dari Pembukaan Denpasar Festival 2010 akan menampilkan Ayu Laksmi dan Svara Semesta. Ayu Laksmi ––yang telah malang melintang dalam dunia musik rock Indonesia pada era 1980-an dan sempat menetap di Jakarta pada medio tahun 1988-1990, lalu Ayu Laksmi kembali ke Bali dan bernyanyi dari kafe ke kafe, dari panggung ke panggung. Ia juga sempat mengarungi Lautan Karibia, bernyanyi di kapal pesiar dalam Bahasa Perancis, Inggris, dan Spanyol. Kini, setelah berpuluh tahun menapaki dunia musik dan tarik suara yang telah menjadi bagian hidupnya ini Ayu Laksmi tiba pada satu babak kehidupan yang lebih kontemplatif. Dalam album terbaru “Svara Semesta” Ayu mengekspresikan karsa dan rasa yang indah dan mendalam.”
Bhuwana Citrakara - Denpasar Festival

“Ayu Laksmi re-emerges in full bloom - Eighteen years after her disappearance from the music scene, Balinese singer Ayu Laksmi released her second album, “Svara Semesta” (“The Voice of the Universe”), on Nov. 25, marking both her birthday and her re-emergence in the Indonesian music industry. “This album was created not just as a work of art, but as a symbol of my pure dedication to God, humanity and the universe,” Ayu said in the booklet accompanying the CD. Consisting of 11 tracks, “Svara Semesta” is an array of world music compositions through which Ayu talks about the relationship between people and God.”
Ade Mardiyati - Jakarta Globe

“Setelah sekitar 18 tahun menghilang dari dunia musik Indonesia, Ayu Laksmi kembali hadir dengan album keduanya yang bertajuk Svara Semesta, dimana album sebelumnya ‘Istana Yang Hilang’ dirilis tahun 1991. Ayu Laksmi kembali dengan konsep yang berbeda, unsur tradisi etnik yang kental terdengar di album kali ini yang memiliki genre world music. “Dulu waktu menyanyikan rock, saya memakai celana jeans ketat dengan gambar tengkorak dibelakangnya, tapi mungkin bedanya, kalau setiap wanita biasanya mengikuti fashion, sekarang saya malah mundur, lebih suka memakai pakaian tradisional khususnya Bali” tutur Ayu Laksmi di acara press conference, di Bentara Budhaya, Kamis 25 November lalu.”
In House Editor - 8-Bars-Online.com

“TEMPO Interaktif, Butuh waktu hingga 18 tahun bagi Ayu Laksmi untuk bangkit lagi dalam panggung musik Indonesia. Setelah selama ini dia asyik sibuk menggarap musik untuk film dan sempat bermain dalam film Under the Tree, musisi asal Bali itu mengumandangkan sebuah album baru bertajuk Svara Semesta. Terakhir, Ayu merilis album bertajuk Istana yang Hilang pada 1991.”
AGUSLIA HIDAYAH - Arsip Berita

“PEREMPUAN kelahiran Singaraja, Bali 25 November 1967 ini, telah lama malang melintang dalam dunia musik nasional maupun internasional melalui beberapa festival menyanyi. Debutnya, dimulai sebagai lady rocker Indonesia. Ia sempat menelurkan album bertajuk Istana Yang Hilang tahun 1991. Sayang, albumnya kurang mendapat sambutan dari masyarakat. Lalu, ia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya untuk menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Udayana. Meski berada di kampung halaman, bakat perempuan ini tak berhenti begitu saja dalam dunia musik. Ia menyanyi dari satu kafe ke café lain, bahkan sempat menyanyi selama tiga bulan di sebuah kapal pesiar.”
Fitryan G.Dennis/Nopiyanti - TNOL - Community Journalism

“Ayu Laksmi Gunakan Lima Bahasa di Album Baru - JAKARTA - Lama tak muncul, Ayu Laksmi membuat lompatan besar dalam karir musiknya. Rocker wanita era tahun 80an ini merilis album kedua dengan musik unik yang dia namakan world music. Selain memasukan nuansa musik yang unik, di album berjudul ‘Svara Emas’ itu, Ayu memasukan lirik lagu yang ditulis dalam lima bahasa, yaitu Sansekerta, Kawi, Bali, Indonesia, dan Inggris. "Album saya ini berlandaskan konsep Tri Hita Kirana yang artinya bercerita, tentang hubungan cinta kasih antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan semesta," jelas Ayu saat ditemui di Bentara Budaya, Palmerah, Jakarta, belum lama ini. Kembali merekam hasil karyanya dalam sebuah album merupakan impian sejak lama musisi asal Bali ini. Apalagi di albumnya ini, Ayu menggandeng musisi handal seperti Dewa Budjana, Peter Brambi, Robert Weber, dan Eko Wicaksono.”
Elang Riki Yanuar - Okezone.com

“Jakarta - Vakum selama 18 tahun, ladyrocker era tahun 90an, Ayu Laksmi, menggebrak dunia musik Indonesia kembali, dengan meluncurkan album baru yang bertema Svara Emas. Hebatnya, dirinya telah memasukan 5 bahasa dunia di album barunya, yakni bahasa Sansekerta, Kawi, Bali, Indonesia, dan Inggris. "Album saya ini berlandaskan konsep Tri Hita Kirana yang artinya bercerita, tentang hubungan cinta kasih antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan semesta," kata Ayu.”
Eko - Wartanews.com

“Ayu Laksmi Membedah Budaya Jawa - Sejauh mana I Gusti Ayu Laksmini, atau yang kemudian lebih populer dengan nama Ayu Laksmi membaca kebudayaan Jawa lewat karya kreatif terbarunya? Menurut pemerhati musik Bens Leo, akan menjadi sebuah pengembaraan kreatifitas musikal yang sangat menarik. Mengingat solo album kedua Ayu yang bertajuk Suara Semesta, menghadirkan sebelas lagu bergenre world music, "Dengan lirik berbahasa kawi atau bahasa Jawa Kuno," katanya di Jakarta, Kamis (25/11).”
In House Editor - Berita Nusantara

“Kidung Filantropi Seniman Bali - Suasana spiritual hadir begitu panggung dibuka. Asap segera meresap, lalu mengepul. Di panggung ada dua orang duduk bersila. Mereka bergumam, melantunkan kidung yang seolah-olah doa. Doa untuk Indonesia dan bencana yang melanda berbagai daerah. Cahaya lampu minim menambah suasana magis. Hampir 15 menit suasana tersebut berlangsung di ruang Gedung Kesenian Jakarta, beberapa hari lalu. Dari balik layar putih, sorot cahaya menampilkan sosok lelaki menari, meliukkan tubuh dengan gerakan perlahan. Awalnya seorang diri, kemudian menjadi tiga dengan gerak menyatu.”
rai - Koran Jakarta

“Ayu Laksmi Berniat Bagi Gratis Albumnya - Mengenai album keduanya yang berjudul SVARA SEMESTA, Ayu Laksmi mengakui tidak mempunyai target apapun. Bahkan dia mempunyai niatan untuk membagikannya secara gratis album ini. Pasalnya vakum selama 18 tahun membuat dia harus bersaing ketat dengan musisi serta penyanyi lainnya yang semakin banyak di blantika musik tanah air.”
In House Editor - Kapan Lagi

“Ziarah Masa Lalu Ayu Laksmi - Perlahan, kain putih itu tersingkap. Ayu Laksmi dan penari kontemporer Made Tegeh Okta, pasangan penari itu, terlihat sempurna. Tak lagi menjadi bayangan. Apa yang mereka tampilkan secara teatrikal menjadi refleksi sebuah perjalanan hidup Laksmi, bahkan dapat menjadi cermin banyak orang. Selama ini, Laksmi seringkali bermimpi tentang keindahan yang menjadi nyata, yang akhirnya menjadi bagian dan menyatu dalam hidupnya. “Kini mimpi itu menjadi nyata. Saya benar-benar bersyukur. Jadi sekarang bisa saya katakan, kita bisa bermimpi apa pun yang ingin kita impikan, dan kita bisa bermimpi menjadi apa pun yang kita inginkan,” kata Laksmi saat soft launching albumnya yang bertajuk Svara Semesta, Sabtu malam lalu di kediaman keluarga besarnya di Singaraja.”
Wendra Wijaya - Balebengong.net

“Mendalami Spiritualisme Ayu Laksmi - Kompas cetak Hari ini pada halaman 21 menurunkan tulisan tentang seni yang berkaitan dengan penampilan Ayu Laksmi dalam konsernya di BBJ dengan tema "svara semesta" sekaligus peluncuran album terbarunya dengan judul yang sama "svara semesta".”
Sulardi Notopertomo - Kompasiana.com

“Kapanlagi.com - Ada yang berubah pada penampilan dari Ayu Laksmi saat ini. Jika sebelumnya dia adalah penyanyi rock di dekade 80 akhir dan 90an akhir dengan dandanannya yang suka memakai celana jean dengan gambar tengkoraknya di (maaf) bokongnya. Sekarang Ayu tampil anggun dengan Carik, pakaian adat bali. "Iya, dari yang dulunya saya penyanyi rocker sekarang lebih ke adat-adatan," ujarnya saat acara peluncuran album barunya SVARA SEMESTA di Bentara Budaya, Jakarta Barat, Kamis (25/11). Di album ini Ayu juga mengusung lirik dan syair islam yang baginya itu bukanlah suatu masalah. Dia mempercayai akan semua doa.”
kpl/gum/fa - Kapan Lagi

“Ayu Laksmi, Bali: A New Voice in World Music - November 25 was not just the date for the launch of the album “Svara Semesta” (Voice of the Universe) in Jakarta – it was also the birthday of the singer-composer-performer, Ayu Laksmi of Bali... I first attended her mesmerising performances at the Bali Spirit Festival, and was delighted to be invited for the launch of her debut album in Jakarta. The CD is superbly crafted (in an era which seems to have abandoned the fine concepts of album design!) and is structured in two parts: the human spirit and technology. The ten tracks make for a superb blend of Balinese and Western traditions of music, over an hour of acoustic delight.”
Madanmohan Rao - Tech Sparks

“JAKARTA, KOMPAS.com -- ALBUM BARU - Svara Semesta, Penjelajahan Ayu Laksmi - "Ini mimpi besar saya," begitu ujar penyanyi asal Bali Ayu Laksmi di acara peluncuran album terbarunya sekaligus konsernya, Svara Semesta, di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (25/11/2010). Bukan sekadar basa-basi ucapan yang terlontar dari mulut tipis mantan rocker itu. Selama 18 tahun ia tak pernah lagi masuk dapur rekaman. Terakhir, ia merilis album pertamanya, Istana Yang Hilang, pada tahun 1991. Sayang, keberuntungan belumlah berpihak kepadanya. Album tersebut jeblok di pasaran. Ayu pun benar-benar menghilang. "Saya memilih pulang ke tanah kelahiran dengan hati yang luka," kata Ayu.”
Eko Hendrawan Sofyan - Kompas.com

“TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setelah hampir 18 tahun berkecimpung dalam dunia tarik suara yang dilengkapi dengan pasang surutnya serta pencarian jati diri , kini mantan rocker nasional , Ayu Laksmi kembali menorehkan karyanya. Guratan-guratan konsep Tri Hita Karana yagn berceritakan akan hubungan kasih sayang antar sesama manusa, juha alam semesta terlahirnya sebuah Solo Album Ayu Laksmi berjudul " Svara Semesta". Album solo ini boleh dibilang suatu mimpi besarnya. Apalagi, penyanyi asal Bali ini sudah sekian lama tak memijakkan kakinya di dapur rekaman setelah merilis album pertamanya berjudul Istana Yang Hilang pada tahun 1991silam. Album tersebut turut Hilang dan Mandul dipasaran pada era itu bersama sang penyanyi.”
Iman Suryanto - Tribun News

“Ayu Laksmi Eksplorasi Lirik Jawa Kuno - Jika era 1990-an nama Ayu Laksmi dikenal sebagai lady rocker, kini ada pencitraan baru yang hendak disajikan oleh perempuan asal Bali ini. Ia tak lagi tampil dengan celana jeans ala seorang rocker. Tapi perempuan kelahiran Singaraja Bali ini tampil menjadi lebih feminin dengan gaya busana perempuan khas tanah kelahirannya. ''Wah saya merasa sudah waktunya saja untuk mengubah image dari seorang rocker menjadi penyanyi etnis. Semua ini saya lakukan secara alamiah saja,'' kata Ayu di Jakarta, Kamis (25/11).”
Krisman Purwoko - Republika Indonesia

“Ayu Laksmi Tebar Aura Spiritual lewat “Svara Semesta” - Lady rocker Bali, Ayu Laksmi menggugah pengunjung peninsula lewat album teranyar bertajuk “ Svara Semesta “, Minggu (17/10). Di tengah semaraknya even Nusa Dua Fiesta (NDF) ke-14 itu , penyanyi asal Singaraja ini mampu mengajak penonton khusuk lewat lagu-lagu berbau spiritualnya. Dari tujuh lagu yang didenkangan, suasana magis terasa ketika lirik-lirik “Svaha Semesta” mulai ditebar. “Lagu ini memang beda, penuh makna yang mendalam,” ujar supardi salah satu pengunjung asal Nusa Dua.”
In House Editor - Journal Bali

“JOURNALBALI.COM-Denpasar - ‘Svara’ Ayu Laksmi untuk ‘Semesta’ - Refleksi diri tentang kehidupan dan perputaran dunia tertuang dalam lirik nada lagu. Berawal dari sebuah renungan dan kegelisahan seorang penyanyi Bali, hingga lahirlah “Svara Semesta”. Ya, dialah Ayu Laksmi, penyanyi kelahiran Buleleng, Bali ini memasukkan sebelas lagu yang terangkum dalam album keduanya. Diantaranya, Tri Kaya Parisuda (Thinking Good, Saying Good, Doing Good), Tat Twam Asi (I am you and you are me), Reinkarnasi, Wirama Totaka dan Kakidung. Karya yang dibuat dalam beberapa bahasa (Bahasa Sanskerta, Kawi, Indonesia dan Inggris) ini sembilan diantaranya adalah ciptaan dia sendiri.”
In House Editor - Journal Bali

“Denpasar (ANTARA News) - Penyanyi asal Bali Ayu Laksmi akan meluncurkan album keduanya bertema "Svara Semesta" di Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, pada 25 September 2010. Rudolf, produser album itu di Sanur, Denpasar, Kamis mengatakan, dalam album tersebut berisi sebelas lagu, antara lain Tri Kaya Parisudha ("Thinking Good, Saying Good, Doing Good"), Wirama Totaka, Tat Twam Asi ("I am you and you are me") dan Reinkarnasi. "Lirik lagu ini sebagian besar karya Ayu Laksmi. Dari 11 judul lagu tersebut, di antaranya sembilan lagu adalah ciptaannya sendiri," katanya. Rudolf mengatakan, inilah titik kesadaran tertinggi Ayu Laksmi dari seluruh rangkaian perjalanan karier sebagai penyanyi yang telah ditekuni sejak berumur empat tahun. "Pencapaian Ayu Laksmi merupakan refleksi. Sebuah titik kesadaran yang menyusup di dalam sikap diamnya ketika mengikuti kerja industri," katanya. ”
In House Editor - Antara News

“Voted as one of Bali’s Ten Most Beautiful People by Hard Rock FM and chosen to be Bali’s Environment Ambassador, you could say that Ayu Laksmi has a well covered mix of talent and achievements up her sleeve. We figured it was about time we caught up with her for a chat... When you were younger, which songs in particular had a strong impact on you for their beauty and message? For me, every song is beautiful in its own way. What I always had on my mind though was an admiration for song composers. My father was an English teacher and he always embraced students to study the language in unique ways, like singing and playing guitar for the class. He created an interesting learning system, adding an artistic dose through lyrics and music and somehow he managed to introduce grammar with it.”
In House Editor - Beat Magazine #268

“Menikmati Keheningan Spiritualitas Sanur - Namun di sela-sela itu, keheningan tiba-tiba menyelinap, menyusup relung-relung jiwa setiap audience yang hadir dalam pembukaan SVF 2010, Rabu pekan lalu. Kehadiran penyanyi Ayu Laksmi dengan lantunan kidung kontemporernya yang diiringi Balawan and Batuan Ethnic Fusion berhasil menciptakan keheningan spiritualitas di tengah keramaian tersebut. Malam itu, Ayu Laksmi kembali berhasil memindahkan nilai-nilai spiritualitas ke atas panggung pertunjukan. Ia membawa hampir seluruh audience larut ke dalam dimensi yang diciptakannya melalui Wirama Totaka dan Maha Asa, dua buah komposisi lagu karyanya sendiri. Meski dua lirik lagu tersebut menggunakan Bahasa Kawi, ini tidaklah menjadi kendala bagi audience untuk menikmati sekaligus menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam lagu-lagu tersebut. “Musik memiliki bahasanya sendiri,” tutur Laksmi.”
Wendra Wijaya - Balebengong.net

“It was a blessing in disguise for I Gusti Ayu Laksmiyani, more popularly known as Ayu Laksmi, to grow up in Singaraja in northern Bali, an area with almost no modern entertainment. Born into a family that was both academic and creative, Ayu grew up surrounded by musical talent. Today, she is a respected singer and songwriter, best known for her stunning renditions of Balinese verses. Ayu has recently performed at the Gempita Gianyar festival in Bali, where she enchanted the audience in the cultural show, Tri Hita Karana — a concept from the Hindu religion, which refers to the harmonious relationship between humans, nature and God.”
In House Editor - Jakarta Globe

“Gianyar Art Festival - The show began with the Gayatri Mantram prayer, which was sung by Balinese artist Ayu Laksmi and Budjana. The prayer was followed by the Rerat Rerot song-and-dance, which was performed by Kadek Dewi. Teenager Gita Gutawa sang Cening Putri Ayu in a duet with Ayu Laksmi, which was presented in a medley of other traditional Balinese and pop songs. The show was closed by the performance of Balinese dance maestro I Nyoman Sura. The performance, entitled Temple Island, told of an island of gods where thousands of temples were built.”
Desy Nurhayati - Jakarta Post

“Movie "Under The Tree" - The strongest of the crop lies in the story of heavily pregnant 40-year-old radio DJ Dewi (former rock singer Ayu Laksmi) whose world comes tumbling down when a scan reveals her fetus is malformed and the unborn baby will have be mentally impaired. If that does not sound dramatic enough or easy enough to provoke tears from more emotional viewers, we have no idea what else could be.”
Nauval Yazid - Jakarta Post